Jami' at-Tirmidzi · 370

No. 405 versi Ahmad Syakir dkk.

Derajat
Memuat derajat…
Kitab
Shalatكتاب الصلاة
Bab
Bab 180: Riwayat tentang dihapusnya berbicara dalam shalatباب مَا جَاءَ فِي نَسْخِ الْكَلاَمِ فِي الصَّلاَةِ

Teks Arab

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ شُبَيْلٍ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الشَّيْبَانِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كُنَّا نَتَكَلَّمُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺصَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصَّلَاةِ يُكَلِّمُ الرَّجُلُ مِنَّا صَاحِبَهُ إِلَى جَنْبِهِ حَتَّى نَزَلَتْ { وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ } فَأُمِرْنَا بِالسُّكُوتِ وَنُهِينَا عَنْ الْكَلَامِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَمُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ قَالُوا إِذَا تَكَلَّمَ الرَّجُلُ عَامِدًا فِي الصَّلَاةِ أَوْ نَاسِيًا أَعَادَ الصَّلَاةَ وَهُوَ قَوْلُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ وَابْنِ الْمُبَارَكِ وَأَهْلِ الْكُوفَةِ و قَالَ بَعْضُهُمْ إِذَا تَكَلَّمَ عَامِدًا فِي الصَّلَاةِ أَعَادَ الصَّلَاةَ وَإِنْ كَانَ نَاسِيًا أَوْ جَاهِلًا أَجْزَأَهُ وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ.

Terjemah

Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Husyaim menceritakan kepada kami, Isma'il bin Abu Khalid mengabarkan kepada kami dari al-Harits bin Syubail, dari Abu Amr asy-Syaibani, dari Zaid bin Arqam, ia berkata: Dahulu kami berbicara di belakang Rasulullah ﷺ dalam shalat; seseorang dari kami berbicara kepada kawannya yang ada di sampingnya, sampai turun ayat: {Dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk}, maka kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbicara. Ia berkata: Dalam bab ini ada riwayat dari Ibnu Mas'ud dan Mu'awiyah bin al-Hakam. Abu Isa berkata: Hadis Zaid bin Arqam adalah hadis hasan sahih, dan atasnya amalan menurut kebanyakan ahli ilmu. Mereka berkata: apabila seseorang berbicara dalam shalat, baik sengaja maupun lupa, ia mengulang shalatnya; ini pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, dan penduduk Kufah. Sebagian lain berkata: apabila ia berbicara dengan sengaja ia mengulang shalatnya, tetapi jika lupa atau tidak tahu maka shalatnya sah; inilah pendapat asy-Syafi'i.